Pengalaman Saya saat Maulid Nabi di SMP Labschool Jakarta

 

Pengalaman Saya saat Maulid Nabi di SMP Labschool Jakarta

 

Sebuah Undangan yang Mengubah Malam

Awalnya, aku hampir saja tidak datang. Hari itu aku pulang sekolah dalam kondisi lelah — tugas menumpuk, pikiran penuh dengan deadline proyek kelompok. Tapi undangan dari OSIS untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi di aula utama SMP Labschool Jakarta malam itu rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Katanya Ustad Dimas Adista yang akan isi ceramah, lho!" kata teman sekelasku, Farhan, sambil menyenggol bahuku saat pulang. Nama itu tidak asing. Ceramah beliau sering viral di media sosial: tenang, menyentuh, dan penuh makna.

Akhirnya aku putuskan datang. Sekadar niat awalnya, tapi ternyata malam itu lebih dari sekadar datang.


Suasana di Aula yang Menyentuh Hati

Aula utama SMP Labschool Jakarta malam itu terasa berbeda dari biasanya. Lampu-lampu hias berwarna keemasan tergantung indah di langit-langit. Lantunan shalawat dari tim marawis menyambut kedatangan para siswa, guru, dan orang tua.

Beberapa guru berdiri di dekat pintu sambil menyambut senyum, dan tim OSIS tampak sibuk mengatur tempat duduk. Di sudut ruangan, konsumsi mulai disiapkan: teh hangat, kue-kue tradisional, dan kurma.

Setelah pembacaan maulid dan sambutan dari kepala sekolah, tibalah saat yang paling dinanti: ceramah dari Ustad Dimas Adista.


Ceramah yang Membuka Mata

Ustad Dimas melangkah ke panggung dengan senyum hangat dan suara tenang yang langsung menarik perhatian semua orang. Beliau tidak membuka dengan dalil yang berat, tapi justru dengan kisah-kisah sederhana dari kehidupan Rasulullah yang terasa begitu relevan.

Yang paling membekas dalam ingatanku adalah ketika beliau berkata:

"Jangan hanya mencintai Rasulullah lewat pujian. Cintai beliau lewat akhlak. Kalau Rasulullah sabar, kamu pun sabar. Kalau Rasulullah pemaaf, kamu pun jangan pendendam."

Aku langsung terdiam. Terasa seperti sedang bercermin — sudah sejauh mana aku meneladani Rasulullah, bukan hanya di lisan, tapi dalam perilaku sehari-hari di sekolah?

Ceramah beliau tidak menggurui. Justru seperti sedang diajak ngobrol santai, tapi tiba-tiba hatiku ditarik untuk merenung lebih dalam.


Pulang dengan Hati Penuh Renungan

Setelah acara selesai, kami semua keluar aula dengan tertib. Angin malam menyapa lembut saat aku dan Farhan berjalan ke gerbang sekolah.

“Nyesel gak datang?” tanya Farhan.

Aku hanya tersenyum. “Justru bersyukur banget.”

Malam Maulid Nabi itu, di SMP Labschool Jakarta, menjadi salah satu malam yang tidak akan aku lupakan. Ceramah Ustad Dimas membuatku sadar — menjadi pribadi yang lebih baik itu dimulai dari hal-hal kecil, seperti bersikap jujur, sabar, dan menghormati guru.


Penutup

Terkadang, sebuah majelis ilmu sederhana di sekolah bisa menjadi momen yang mengubah cara kita memandang hidup. Malam itu bukan hanya tentang memperingati kelahiran Rasulullah, tapi tentang menyalakan kembali semangat untuk meneladani beliau dalam keseharian.

Kalau kamu pernah punya pengalaman serupa, ayo ceritakan juga. Karena siapa tahu, dari cerita-cerita kecil kita, tumbuh cinta yang besar kepada Rasulullah.

#MaulidNabi #SMPLabschoolJakarta #CeramahUstadDimas #CintaRasul #RefleksiPelajar




 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

100 Soal Informatika

Jarimu Harimaumu: Literasi Digital di Era Modern dan Cara Mengembangkannya